Minggu, 24 Juli 2016

"kopi"

Karya : Giheisel Surya Kencana

Ah brengsek
Aku benci meminum kopi ini
Membuatku terjaga di sepanjang malam
Dan, ditemani rembulan yang berbicara

Hanya seteguk saja
Kopi ini dapat memabukanku
Lalu, membuatku harus mengingat yang tak perlu
Membuatku bercumbu dengan masa lalu

Kurasa...
seteguk lagi akan membuatku menangis
Menangis bersama turunnya hujan
Membuatku menyesal akan selama ini

"Kembali"

Karya : Giheisel Surya Kencana

Aku mulai menyingkirkanmu
Membuang kenangan kita
Membuangnya di tepi pantai
Dan mulai berjalan meninggalkannya

Namun...
Ombak membawanya ke tengah laut
Mentari membawanya ke angkasa
Lalu turun kenangan itu bersama hujan

Kesalahanku membuangmu
Aku tetap mengingatmu
Mungkin sudah campur tangan semesta
Aku tak akan melepasmu lagi

Rabu, 13 Juli 2016

"Dialog Dini Hari"

Karya : Giheisel Surya Kencana

Ingatkah dahulu...
Di saat rembulan bersinar
Dimana orang terlelap dalam kantuk
Di situ lah kita berbincang

Waktu dimana kita
Bercanda gurau dengan kebodohan kita
Saling membuka kejelekan diri
Dan, menangisi sesuatu yang tak penting

Namun...
Kesibukan memisahkan kita
Tiada lagi obrolan di antara kita
Tidak ada lagi kita

Selasa, 28 Juni 2016

"Nostalgiamu"

Karya: Giheisel Surya Kencana


Kau kembali... 
Dengan pribadi yang dewasa
Membawa paras nan anggun

Menatapmu...
Bagaikan masa lalu yang terulang
Merubah sosok kami seolah menjadi pribadi yang lama
Rindu ini seakan berteriak mengingat masa-masa denganmu

Namun, ini hanyalah masalah waktu
Biarkan waktu yang mendewasakan kita
Dan biarkan waktu menelan masa lalu

Senin, 27 Juni 2016

"Dua Tali"

Karya : Ajeng Meilani

Ibarat seutas tali
Butuh proses untuk menjadi kuat
Mempunyai 1000 manfaat
Apakah itu namanya sahabat ?

Hidup tidak bahagia tanpa sahabat
Terasa hambar seperti tak ada tekad
Seperti dua tali yang saling terikat
terikat dengan rasa yang hangat

Sedih, air matakau hapuskan
Senang, tetawa tanpa lelah
Seolah kesempurnaan telah datang
Sebab karenamu kawan 

Minggu, 26 Juni 2016

"Wanita Bodoh"

Karya : Ajeng Meilani

Apa dayaku ?
Menangis di kegelapan malam
Bulan dan bintang yang menemani
Hembusan angin mengiringi tangisan ini
Awan hitam seperti menggambar di hati

Aku ingin pergi
Kewaktu dimana aku belum mengenalmu
Dimana aku belum tahu perasaan ini
Dan tak menyia-nyiakan air mataku
Hidup bahagia tanpa dihantui lesedihan

Bukan salahmu
Mungkin hatiku ini yang belum terbiasa
Mungkin ini hanya kayalanku
Kayalan yang membuatku gila
Gila memikirkan perasaan ini

Jumat, 24 Juni 2016

"Panas Hati"

Karya : Giheisel Surya Kencana
 
 
Sendiri ku diam di sudut kamar
Terbalut tebalnya selimut
Dan beberapa teman tidur

Suhu kamar berangsur turun
Mengikuti derasnya angin penyejuk

Raga ini diam karena menggigil
Namun...
Jiwa ini berteriak karena panas

Saat kau mulai hanyut bersamanya
Saat kau memperlakukan aku seperti orang lain

Sedangkan aku...
Hanya bisa mencari tahu tentang wanita itu
Dan membandingkan dengan diri ini

Kamis, 23 Juni 2016

"Pengagum Rahasia"

Karya : Giheisel Surya Kencana


Lengkungan manis senyummu
Bagaikan sinar mentari di pagi hari
Membuatku tenggelam dalam hangatnya suasana 

Ingin rasa tertawa bersamamu
Dan hanyut dalam kenyamanan
Hingga lupa...
Bahwa ini hanya imajinasi nakalku

Kutampar pipi ini
Hanya percikan perih yang ku dapat
Dan, beberapa pasang mata yang bertanya

"Langkah"

Karya : Giheisel Surya Kencana


Langkah pertamaku ambil
Lalu menengok dan menangis
Langkah keduaku ambil
Aku tetap menengok dan menangis

Perih hati ini
Namun aku hanya wanita lemah
Yang berharap untuk kuat

Langkah demi langkah ku lalui
walaupun berat untuk tidak melihat mu

Ingin sekali ku berlari
Namun kaki ini gemertar
Kupaksakan diri untuk berlari
Walau harus menahan sakit

Dan kini langkahku terhenti
Fase dimana saat aku menyebut namamu
Hatiku sudah tidak menangis

Dan ini lah aku
Wanita yang kuat untuk melanjutkan perjalanan